MoFE Logo

Motor Indonesia dengan Nama Beda di Luar Negeri!

Motor Indonesia dengan Nama Beda di Luar Negeri!

Dunia sepeda motor dipenuhi dengan berbagai merek yang menghadirkan inovasi dan desain yang menarik. Dari Jepang hingga Italia, setiap negara memiliki kontribusinya sendiri dalam dunia sepeda motor. Indonesia, sebagai salah satu pemain dalam industri ini, juga memiliki peran yang signifikan. Dalam dunia sepeda motor memang melahirkan beragam merek yang menghiasi jalan-jalan di berbagai negara termasuk di Indonesia. Namun, tahukah Anda bahwa beberapa sepeda motor dari Indonesia memiliki nama yang beda di luar negeri?

Mengapa Terjadi Perbedaan Nama?

Pertanyaan yang mungkin muncul adalah mengapa beberapa sepeda motor dari Indonesia memiliki nama yang berbeda di luar negeri? Ada beberapa alasan yang mungkin menjadi penyebabnya.

a. Hak Cipta

Salah satu alasan utama adalah masalah hak cipta. Di beberapa negara, nama atau merek dagang tertentu mungkin sudah dipatenkan oleh pihak lain. Sehingga, untuk menghindari konflik hukum, produsen sepeda motor harus menyesuaikan nama produk mereka di setiap pasar.

Kasus nyatanya adalah sebuah fakta dimana Honda mendaftarkan nama “BeAT” untuk mobil dan motor di tahun 1991 untuk mobil sport di Jepang. Nama ini kemudian digunakan Honda secara luas. Artinya, produsen mobil dan motor lain tidak bisa menggunakan nama BeAT sejak dipatenkan di 1991.

b. Strategi Pemasaran

Strategi pemasaran juga memainkan peran penting dalam penamaan sepeda motor. Nama yang lebih cocok atau menarik bagi pasar tertentu dapat digunakan untuk meningkatkan daya tarik produk di sana. Hal ini seringkali merupakan langkah yang cerdas dalam memperluas pangsa pasar.

Misalnya kaya pas Honda meluncurkan Vario di pasar Vietnam, mereka ingin menggunakan kesan sporty dari CBR1000RR Fireblade. Jadi, Honda Vietnam memilih “AirBlade” sebagai nama Vario. Hal serupa juga terjadi di Astra Honda Motor. Ketika Astra Honda Motor meluncurkan motor bebek berdesain sporty, mereka memilih nama Blade dan menggunakan warna MotoGP untuk menghadirkan citra sporty tersebut.

c. Berusaha Menyesuaikan dengan Budaya Lokal

Selain itu, menyesuaikan nama dengan budaya lokal juga menjadi pertimbangan. Nama yang mudah diucapkan atau memiliki makna yang relevan dalam bahasa setempat dapat membantu sepeda motor mendapatkan tempat di hati konsumen. Penyesuaian ini membuat nama yang mungkin terdengar lucu atau tidak memiliki arti di suatu negara dapat diganti dengan nama yang lebih menarik atau relevan secara kultural.

Contohnya kaya Mitsubishi Pajero yang terkenal di Jepang dan pasar Asean. Nama Pajero itu kurang bagus artinya kalau di Spanyol, artinya itu pembohong dan kadang juga diartikan kurang sopan yakni seseorang yang melakukan masturbasi.

Sepeda Motor Indonesia dengan Nama Beda di Luar Negeri

Sejumlah sepeda motor dari Indonesia memiliki nama yang berbeda ketika mereka melintasi batas negara. Berikut adalah beberapa contohnya:

a. Honda Revo (Indonesia) – Honda Wave (Malaysia)

Honda Revo, yang dikenal karena kehandalannya di jalanan Indonesia, mendapat identitas yang sedikit berbeda di Malaysia sebagai Honda Wave. Meskipun tetap memiliki ciri khas Honda, perubahan nama ini mungkin bertujuan untuk menarik minat konsumen Malaysia yang memiliki preferensi atau asosiasi yang berbeda.

b. Honda Blade (Indonesia) – Honda Wave Dash (Malaysia)

Demikian pula, Honda Blade yang sporty dan efisien di Indonesia, hadir dengan nama Honda Wave Dash di Malaysia. Perubahan ini mungkin sebagian untuk menyesuaikan dengan preferensi pasar Malaysia yang mungkin memiliki preferensi desain yang sedikit berbeda.

c. Honda Vario (Indonesia) – Honda Click (Thailand) – AirBlade (Vietnam)

Honda Vario, yang populer sebagai matic pertama Honda di Indonesia, di Thailand dikenal sebagai Honda Click. Hal ini mungkin mencerminkan upaya Honda untuk memperluas basis konsumen mereka di Thailand dengan menggunakan nama yang lebih sesuai dengan preferensi lokal.

Nah kalau dii Vietnam sendiri namanya AirBlade, di mana Vario ala Vietnam ini ingin membawa kesan sporty pada matic tersebut dengan mengadopsi nama motor CBR1000RR Fireblade yang esensi sportynya lebih dahulu melekat.

d. Honda Supra x (Indonesia) – Honda Winner 125 (Vietnam) – Honda Innova (Eropa)

Honda Supra X di Indonesia menjadi Honda Winner 125 di Vietnam dan Honda Innova di Eropa. Perbedaan ini menunjukkan adaptasi yang luas dari Honda terhadap kebutuhan dan preferensi konsumen di berbagai negara, dari Asia Tenggara hingga Eropa.

e. Yamaha Mio (Indonesia) – Yamaha Ego (Malaysia)

Yamaha Mio, yang dikenal karena gaya modern dan kenyamanannya, di Malaysia disebut Yamaha Ego. Perubahan nama ini mungkin mencerminkan strategi pemasaran Yamaha untuk menarik konsumen Malaysia dengan merek yang lebih sesuai dengan selera lokal mereka.

f. Yamaha MX King (Indonesia) – Yamaha Y15ZR (Malaysia) – Yamaha Sniper 150 MXi (Filipina) – Yamaha Exciter (Vietnam & Thailand)

Yamaha MX King, sepeda motor sport yang populer di Indonesia, memiliki identitas yang berbeda di setiap negara. Di Malaysia, dikenal sebagai Yamaha Y15ZR, di Filipina sebagai Yamaha Sniper 150 MXi, dan di Vietnam & Thailand sebagai Yamaha Exciter. Ini adalah contoh bagaimana Yamaha beradaptasi dengan beragam preferensi dan kebutuhan pasar di Asia Tenggara.

g. Yamaha Jupiter Z1 (Indonesia) – Yamaha Lagenda 115z (Malaysia) – Yamaha Vega Force i (Filipina)

Yamaha Jupiter Z1, dengan kehandalan dan kinerja yang telah terbukti di Indonesia, hadir dengan identitas yang berbeda di Malaysia sebagai Yamaha Lagenda 115z, dan di Filipina sebagai Yamaha Vega Force i. Ini menunjukkan strategi Yamaha dalam membangun citra merek yang kuat di berbagai pasar regional.

h. Yamaha Bison (Indonesia) – Yamaha FZ (India)

Yamaha Bison, yang merupakan simbol keandalan di jalanan Indonesia, disebut sebagai Yamaha FZ di India. Perubahan nama ini mungkin sebagian untuk mencocokkan dengan preferensi dan tren pasar India yang berbeda.

i. Suzuki Satria FU (Indonesia) – Suzuki Belang (Malaysia) – Suzuki Raider (Thailand)

Suzuki Satria FU, dengan performa sporty dan desain yang agresif di Indonesia, di Malaysia dikenal sebagai Suzuki Belang, dan di Thailand sebagai Suzuki Raider. Perubahan nama ini mencerminkan strategi Suzuki dalam menghadapi preferensi pasar yang berbeda di Asia Tenggara.

Dari contoh di atas, terlihat bahwa penamaan sepeda motor bisa sangat bervariasi, tergantung pada pasar dan kebijakan produsen. Meskipun nama berbeda, esensi dan kualitas dari sepeda motor tersebut tetap sama, mencerminkan dedikasi produsen untuk memberikan pengalaman berkendara terbaik kepada konsumen mereka, di manapun mereka berada.

Keberadaan sepeda motor Indonesia dengan nama yang berbeda di luar negeri adalah cermin dari dinamika pasar global. Hal ini menunjukkan adaptabilitas produsen dalam menghadapi tantangan dan peluang di berbagai belahan dunia. Namun, di balik perbedaan nama, tetaplah satu hal yang sama: semangat untuk terus menghadirkan inovasi dan kualitas terbaik bagi para penggemar sepeda motor di seluruh dunia.

Share This Article

Artikel Terbaru

Artikel Terkait